
1.
Candi Borobudur
Ciri-Ciri
nya :
Candi
Borobudur berbentuk punden berundak, yang terdiri dari enam tingkat berbentuk
bujur sangkar, tiga tingkat berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama
sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua tingkat-tingkatannya beberapa
stupa.
Borobudur
adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa
Tengah. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang
dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi ini didirikan oleh para
penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa
pemerintahan wangsa Syailendra.
2.
Candi Mendut

Ciri-Ciri
nya :
Hiasan yang terdapat pada candi Mendut berupa hiasan yang berselang-seling. Dihiasi dengan ukiran makhluk-makhluk kahyangan berupa bidadara dan bidadari, dua ekor kera dan seekor garuda.
Hiasan yang terdapat pada candi Mendut berupa hiasan yang berselang-seling. Dihiasi dengan ukiran makhluk-makhluk kahyangan berupa bidadara dan bidadari, dua ekor kera dan seekor garuda.
Candi
Mendut adalah sebuah candi berlatar belakang agama Buddha. Candi ini terletak
di desa Mendut, kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, beberapa
kilometer dari candi Borobudur.
Candi Mendut didirikan semasa pemerintahan Raja Indra dari dinasti Syailendra. Di dalam prasasti Karangtengah yang bertarikh 824 Masehi, disebutkan bahwa raja Indra telah membangun bangunan suci bernama veluvana yang artinya adalah hutan bambu. Oleh seorang ahli arkeologi Belanda bernama J.G. de Casparis, kata ini dihubungkan dengan Candi Mendut.
Candi Mendut didirikan semasa pemerintahan Raja Indra dari dinasti Syailendra. Di dalam prasasti Karangtengah yang bertarikh 824 Masehi, disebutkan bahwa raja Indra telah membangun bangunan suci bernama veluvana yang artinya adalah hutan bambu. Oleh seorang ahli arkeologi Belanda bernama J.G. de Casparis, kata ini dihubungkan dengan Candi Mendut.
3.
Candi Ngawen

Ciri-Ciri
nya :
Candi ini terdiri dari 5 buah candi kecil, dua di antaranya mempunyai bentuk yang berbeda dengan dihiasi oleh patung singa pada keempat sudutnya. Sebuah patung Buddha dengan posisi duduk Ratnasambawa yang sudah tidak ada kepalanya nampak berada pada salah satu candi lainnya. Beberapa relief pada sisi candi masih nampak cukup jelas, di antaranya adalah ukiran Kinnara, Kinnari, dan kala-makara.
Candi ini terdiri dari 5 buah candi kecil, dua di antaranya mempunyai bentuk yang berbeda dengan dihiasi oleh patung singa pada keempat sudutnya. Sebuah patung Buddha dengan posisi duduk Ratnasambawa yang sudah tidak ada kepalanya nampak berada pada salah satu candi lainnya. Beberapa relief pada sisi candi masih nampak cukup jelas, di antaranya adalah ukiran Kinnara, Kinnari, dan kala-makara.
Candi
Ngawen adalah candi Buddha yang berada kira-kira 5 km sebelum candi Mendut dari
arah Yogyakarta, yaitu di desa Ngawen, kecamatan Muntilan, Magelang. Menurut
perkiraan, candi ini dibangun oleh wangsa Syailendra pada abad ke-8 pada zaman
Kerajaan Mataram Kuno. Keberadaan candi Ngawen ini kemungkinan besar adalah
yang tersebut dalam prasasti Karang Tengah pada tahun 824 M.
4.
Candi Lumbung

Candi
Lumbung adalah candi Buddha yang berada di dalam kompleks Taman Wisata Candi
Prambanan, yaitu di sebelah candi Bubrah. Menurut perkiraan, candi ini dibangun
pada abad ke-9 pada zaman Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini merupakan kumpulan
dari satu candi utama (bertema bangunan candi Buddha)
Ciri-cirinya
:
Dikelilingi oleh 16 buah candi kecil yang keadaannya masih relatif cukup bagus.
Dikelilingi oleh 16 buah candi kecil yang keadaannya masih relatif cukup bagus.
5.
Candi Banyunibo

Candi
Banyunibo yang berarti air jatuh-menetes (dalam bahasa Jawa) adalah candi
Buddha yang berada tidak jauh dari Candi Ratu Boko, yaitu di bagian sebelah
timur dari kota Yogyakarta ke arah kota Wonosari. Candi ini dibangun pada
sekitar abad ke-9 pada saat zaman Kerajaan Mataram Kuno. Pada bagian atas candi
ini terdapat sebuah stupa yang merupakan ciri khas agama Buddha.
Ciri-cirinya:
Keadaan
dari candi ini terlihat masih cukup kokoh dan utuh dengan ukiran relief
kala-makara dan bentuk relief lainnya yang masih nampak sangat jelas. Candi
yang mempunyai bagian ruangan tengah ini pertama kali ditemukan dan diperbaiki
kembali pada tahun 1940-an, dan sekarang berada di tengah wilayah persawahan.
6.
Kompleks Percandian Batujaya

Kompleks
Percandian Batujaya adalah sebuah suatu kompleks sisa-sisa percandian Buddha
kuna yang terletak di Kecamatan Batujaya dan Kecamatan Pakisjaya, Kabupaten
Karawang, Provinsi Jawa Barat. Situs ini disebut percandian karena terdiri dari
sekumpulan candi yang tersebar di beberapa titik.
Cirri-cirinya:
Dari segi kualitas, candi di situs Batujaya tidaklah utuh secara umum sebagaimana layaknya sebagian besar bangunan candi. Bangunan-bangunan candi tersebut ditemukan hanya di bagian kaki atau dasar bangunan, kecuali sisa bangunan di situs Candi Blandongan.
Candi-candi yang sebagian besar masih berada di dalam tanah berbentuk gundukan bukit (juga disebut sebagai unur dalam bahasa Sunda dan bahasa Jawa). Ternyata candi-candi ini tidak memperlihatkan ukuran atau ketinggian bangunan yang sama.
Dari segi kualitas, candi di situs Batujaya tidaklah utuh secara umum sebagaimana layaknya sebagian besar bangunan candi. Bangunan-bangunan candi tersebut ditemukan hanya di bagian kaki atau dasar bangunan, kecuali sisa bangunan di situs Candi Blandongan.
Candi-candi yang sebagian besar masih berada di dalam tanah berbentuk gundukan bukit (juga disebut sebagai unur dalam bahasa Sunda dan bahasa Jawa). Ternyata candi-candi ini tidak memperlihatkan ukuran atau ketinggian bangunan yang sama.
7.
Candi Muara Takus

Candi
Muara Takus adalah sebuah candi Buddha yang terletak di Riau, Indonesia.
Kompleks candi ini tepatnya terletak di desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto,
Kabupaten Kampar atau jaraknya kurang lebih 135 kilometer dari Kota Pekanbaru,
Riau. Jarak antara kompleks candi ini dengan pusat desa Muara Takus sekitar 2,5
kilometer dan tak jauh dari pinggir Sungai Kampar Kanan.
Ciri-cirinya:
Kompleks
candi ini dikelilingi tembok berukuran 74 x 74 meter diluar arealnya terdapat
pula tembok tanah berukuran 1,5 x 1,5 kilometer yang mengelilingi kompleks ini
sampal ke pinggir sungai Kampar Kanan. Di dalam kompleks ini terdapat pula
bangunan Candi Tua, Candi Bungsu dan Mahligai Stupa serta Palangka. Bahan
bangunan candi terdiri dari batu pasir, batu sungai dan batu bata. Menurut
sumber tempatan, batu bata untuk bangunan ini dibuat di desa Pongkai, sebuah
desa yang terletak di sebelah hilir kompleks candi. Bekas galian tanah untuk
batu bata itu sampai saat ini dianggap sebagai tempat yang sangat dihormati
penduduk. Untuk membawa batu bata ke tempat candi, dilakukan secara beranting
dari tangan ke tangan. Cerita ini walaupun belum pasti kebenarannya memberikan
gambaran bahwa pembangunan candi itu secara bergotong royong dan dilakukan oleh
orang ramai.
8.
Candi Sumberawan

Candi
Sumberawan hanya berupa sebuah stupa, berlokasi di Kecamatan Singosari, Malang.
Dengan jarak sekitar 6 km dari Candi Singosari. Candi ini Merupakan peninggalan
Kerajaan Singhasari dan digunakan oleh umat Buddha pada masa itu.
Candi
Sumberawan terletak di desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang,
+/- 6 Km, di sebelah Barat Laut Candi Singosari, candi ini dibuat dari batu
andesit dengan ukuran P. 6,25m L. 6,25m T. 5,23m dibangun pada ketinggian 650
mDPL, di kaki bukit Gunung Arjuna. Pemandangan di sekitar candi ini sangat
indah karena terletak di dekat sebuah telaga yang sangat bening airnya. Keadaan
inilah yang memberi nama Candi Rawan.
Cirri-cirinya:
Candi ini terdiri dari kaki dan badan yang berbentuk stupa. Pada batur candi yang tinggi terdapat selasar, kaki candi memiliki penampil pada keempat sisinya. Di atas kaki candi berdiri stupa yang terdiri atas lapik bujur sangkar, dan lapik berbentuk segi delapan dengan bantalan Padma, sedang bagian atas berbentuk genta (stupa) yang puncaknya telah hilang.
Candi ini terdiri dari kaki dan badan yang berbentuk stupa. Pada batur candi yang tinggi terdapat selasar, kaki candi memiliki penampil pada keempat sisinya. Di atas kaki candi berdiri stupa yang terdiri atas lapik bujur sangkar, dan lapik berbentuk segi delapan dengan bantalan Padma, sedang bagian atas berbentuk genta (stupa) yang puncaknya telah hilang.
9.
Candi Brahu

Candi
Brahu dibangun dengan gaya dan kultur Buddha, didirikan abad 15 Masehi.
Pendapat lain, candi ini berusia jauh lebih tua ketimbang candi lain di sekitar
Trowulan. Menurut buku Bagus Arwana, kata Brahu berasal dari kata Wanaru atau
Warahu. Nama ini didapat dari sebutan sebuah bangunan suci seperti disebutkan
dalam prasasti Alasantan, yang ditemukan tak jauh dari candi brahu. Dalam
prasasti yang ditulis Mpu Sendok pada tahun 861 Saka atau 9 September 939,
Cirri-cirinya:
Candi Brahu merupakan tempat pembakaran (krematorium) jenazah raja-raja Brawijaya. Anehnya dalam penelitian, tak ada satu pakarpun yang berhasil menemukan bekas abu mayat dalam bilik candi. Lebih lebih setelah ada pemugaran candi yang dilakukan pada tahun 1990 hingga 1995.
Candi Brahu merupakan tempat pembakaran (krematorium) jenazah raja-raja Brawijaya. Anehnya dalam penelitian, tak ada satu pakarpun yang berhasil menemukan bekas abu mayat dalam bilik candi. Lebih lebih setelah ada pemugaran candi yang dilakukan pada tahun 1990 hingga 1995.
10.
Candi Sewu

Candi
Sewu adalah candi Buddha yang berada di dalam kompleks candi Prambanan (hanya
beberapa ratus meter dari candi utama Roro Jonggrang). Candi Sewu (seribu) ini
diperkirakan dibangun
pada saat kerajaan Mataram Kuno oleh raja Rakai Panangkaran (746 – 784). Candi
Sewu merupakan komplek candi Buddha terbesar setelah candi Borobudur, sementara
candi Roro Jonggrang merupakan candi bercorak Hindu.
Menurut
legenda rakyat setempat, seluruh candi ini berjumlah 999 dan dibuat oleh
seorang tokoh sakti bernama, Bandung Bondowoso hanya dalam waktu satu malam
saja, sebagai prasyarat untuk bisa memperistri dewi Roro Jonggrang. Namun
keinginannya itu gagal karena pada saat fajar menyingsing, jumlahnya masih
kurang satu.
11 Wat Rong Khun Candi Budha di Chiang
Rai, Thailand
Model Wat rong candi Buddha Khun tidak seperti
model konvensional candi. Candi ini dirancang oleh Chalermchai Kositpipat.
Konstruksi dimulai pada 1998 dan diperkirakan akan berakhir pada tahun 2008.
Wat Rong Khun berbeda dari candi lainnya di Thailand, dan dirancang dalam putih
beberapa bagian menggunakan kaca putih. Warna putih digunakan untuk
melambangkan kemurnian Buddha, sedangkan penggunaan kaca berwarna dan putih
melambangkan kebijaksanaan Buddha yang menerangi seluruh muka bumi dan segala
sesuatu.
12. Candi Kalasan
Candi Kalasan
yang berada tidak jauh dari Candi Prambanan
Candi Kalasan atau Candi Kalibening[1] merupakan sebuah candi yang dikategorikan sebagai candi umat Buddha terdapat di desa Kalasan, kabupaten Sleman, provinsi Yogyakarta, Indonesia. Candi ini memiliki 52 stupa dan berada di sisi jalan raya antara Yogyakarta dan Solo serta sekitar 2 km dari candi Prambanan.
Pada awalnya hanya candi Kalasan ini yang ditemukan pada kawasan situs ini, namun setelah digali lebih dalam maka ditemukan lebih banyak lagi bangunan bangunan pendukung di sekitar candi ini. Selain candi Kalasan dan bangunan - bangunan pendukung lainnya ada juga tiga buah candi kecil di luar bangunan candi utama, berbentuk stupa.
13.Shwedagon Pagoda
Candi ini terletak di Mynamar dan
juga dikenal sebagai Kuil Emas. Strukturnya semua terbuat dari emas dan Budha
menggunakan tabungan mereka untuk membeli daun emas yang kemudian mereka
pasangkan pada dinding candi. Kubah ini memiliki 2.000 rubi dan 5.000 berlian.
14. Candi Batujaya
Kompleks Percandian Batujaya: Jejak Peradaban Agung di Jawa BaratTak banyak memang penemuan candi di lokasi Jawa Barat seperti halnya di kawasan Jawa Tengah, Jogja, maupun Jawa Timur. Tetapi, bukan berarti tidak ada. Apalagi mengecilkan nilai sejarah-budaya dari Jawa Barat itu sendiri yang sebenarnya memiliki peradaban yang tak kalah pentingnya dari kawasan lain di Nusantara, pula perannya bagi hubungan dan perdagangan internasional berabad-abad silam.
Kali ini, kami bertolak menuju kawasan yang dikenal sebagai salah satu lumbung padi Jawa Barat, yaitu Karawang. Dari Jakarta, akses dan transportasi publik menuju Karawang, tidaklah sulit. Pagi-pagi sekali, kami berangkat dengan bus menuju Karawang. Sepanjang perjalanan, kami disuguhkan dengan pemandangan berupa hamparan sawah yang telah menguning. Para petani pun tampak sibuk memotong padi.

Kompleks Percandian Batujaya mencakup area seluas 5 km2 di wilayah administrasi Desa Segaran, Kec. Batujaya dan Desa Telukbuyung, Kec. Pakisjaya (semula Desa Telagajaya, Kec. Batujaya) Kab. Karawang, Jawa Barat. Terdapat lebih dari 20 reruntuhan bangunan bata yang meliputi persawahan dan perkampungan penduduk. Sebagian besar situs masih berupa gundukan tanah berupa bukit-bukit kecil dengan tinggi 1-4 meter, yang oleh penduduk sekitar kerap disebut unur (bukit kecil) dan dianggap keramat. Berbeda dengan candi lain yang biasanya ditemukan dan direkonstruksi oleh Belanda pada masa kolonialisme, Percandian Batujaya pertama kali ditemukan tahun 1984 oleh tim Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya, Univ. Indonesia (UI).
15.
Candi Sari, Jawa Tengah Abad ke-13 M, Majapahit

Candi
Sari adalah candi Buddha yang berada tidak jauh dari Candi Sambi Sari, Candi
Kalasan dan Candi Prambanan. Candi ini dibangun pada sekitar abad ke-8 dan ke-9
pada saat zaman Kerajaan Mataram Kuno dengan bentuk yang sangat indah. Pada
bagian atas candi ini terdapat 9 buah stupa seperti yang nampak pada stupa di
Candi Borobudur, dan tersusun dalam 3 deretan sejajar.
16. .Candi Tikus, Mojokerto,
Jawa Timur Abad ke-13 M, Majapahit

Candi
Tikus terletak di dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten
Mojokerto, Jawa Timur. Candi Tikus yang semula telah terkubur dalam tanah
ditemukan kembali pada tahun 1914. Nama ‘Tikus’ hanya merupakan sebutan yang
digunakan masyarakat setempat. Konon, pada saat ditemukan, tempat candi
tersebut berada merupakan sarang tikus. Dengan adanya miniatur menara
diperkirakan candi ini dibangun antara abad 13 sampai 14 M, karena miniatur
menara merupakan ciri arsitektur pada masa itu. Bangunan Candi Tikus
menyerupai sebuah petirtaan atau pemandian, yaitu sebuah kolam dengan beberapa
bangunan di dalamnya.
17.Candi Ratu Baka, keraton yang terlupakan

Nama "Ratu Baka" berasal dari legenda masyarakat
setempat. Ratu Baka (Bahasa Jawa, arti harafiah: "raja bangau")
adalah ayah dari Loro Jonggrang, yang juga menjadi nama candi utama pada
komplek Candi Prambanan.
Secara administratif, situs ini berada di wilayah Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta dan terletak pada ketinggian hampir 200 m di atas permukaan laut.
Situs ini dicalonkan ke UNESCO untuk dijadikan Situs Warisan Dunia sejak tahun 1995.
Candi ini berada kira-kira 3 km di sebelah selatan dari komplek Candi Prambanan, 18 km sebelah timur Kota Yogyakarta atau 50 km barat daya Kota Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia. Luas keseluruhan komplek adalah sekitar 25 ha.
Secara administratif, situs ini berada di wilayah Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta dan terletak pada ketinggian hampir 200 m di atas permukaan laut.
Situs ini dicalonkan ke UNESCO untuk dijadikan Situs Warisan Dunia sejak tahun 1995.
Candi ini berada kira-kira 3 km di sebelah selatan dari komplek Candi Prambanan, 18 km sebelah timur Kota Yogyakarta atau 50 km barat daya Kota Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia. Luas keseluruhan komplek adalah sekitar 25 ha.
18. Candi Dawangsari - Sleman
Candi
ini terletak di Dusun Candisari, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten
Sleman, Yogyakarta. Candi Dawangsari terletak di dekat Candi Barong dari sini
terlihat jelas candi barong dari kejauhan.
Kondisi
Situs Dawangsari telah runtuh dan reruntuhannya teronggok di antara pekarangan
milik warga tanpa pagar. Tetapi bukan berarti situs Dawangsari belum mendapat
perhatian sama sekali. Setidaknya sisa pondasi papan nama yang ada di kawasan
Situs Dawangsari menunjukkan bahwa sebelumnya situs ini pernah memperoleh
penanganan.
19. Candi Gampingan - Bantul
Terletak
di dusun Gampingan, Kelurahan Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul,
Yogyakarta.
Candi
Gampingan ini terpendam di bawah tanah sebelum akhirnya ditemukan pada tahun
1995 oleh pembuat batu bata di gampingan dan dilakukan penggalian serta
penyelamatan sebanyak 3 kali yaitu tahun 1995, 1996, dan 1997
Bentuk
Candi
Denah
Candi Gampingan berbentuk segi empat yang berukuran 4,64m x 4,65m. tinggi Candi
Gampingan yang masih tersisa 1,2m. terdiri atas delapan lapisan batu putih yang
disusun dengan teknik kait, selain teknik kait juga digunakan “teknik las”
yaitu penyisipan batu kedalam rongga-rongga yang menghubungkan satu batu dengan
batu yang lainnya. Candi Gampingan memiliki komponen tangga dan perigi. Tangga
Candi Gampingan terdapat di sisi barat, yang berarti arah hadap bangunan
menghadap ke barat, tingginya sejajar dengan tinggi bangunan yang masih tersisa
dan lebarnya 1,8m. tangga itu terdiri atas dua lapisan batu sebagai alas
tangga, lima anak tangga dan pipi tangga yang ujungnya membentuk lengkung
membulat dan polos.
20. Candi Lesung Batu - Musi Rawas, Sumatra Selatan
Terletak
di Desa Lesungbatu, Kecamatan Rawas Ulu, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatra
Selatan, Indonesia.
Lokasi
candi ini bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Perjalanan
bisa dilakukan melalui jalan lintas Sumatra, dari arah Lubuk Linggau menuju
Sarolangun, Jambi. Ketika sampai di kilometer 93, akan terlihat sebuah bukit
kecil di sebelah utara jalan raya. Dengan menyusuri jalan setapak sambil
berjalan kaki sepanjang 180 meter dan mendaki hingga ke puncak bukit kecil
tersebut, akan terlihat Candi Lesungbatu tersebut.
bentuk bangunannya hanya tampak seperti susunan batu tak beraturan yang siap roboh jika tersentuh. Candi Sojiwan, begitu nama bangunan itu, memang belum seterkenal candi lainnya, meski ia berada tak jauh dari komplek Candi Prambanan. Maklum, pemugarannya hingga kini belum rampung.
Candi Sojiwan merupakan sebuah komplek candi Budha. Di lokasi itu terdapat candi induk serta beberapa buah candi perwara atau pendamping. Candi induk menghadap ke arah barat. Dasar candi berbentuk segi empat. Selasar atau teras berada di atas dasar candi, mengelilingi badan candi. Pintu candi memiliki penampil yang menjorok ke depan juga dilengkapi tangga bersayap yang ujungnya relief Kalamakara.
Pada kanan dan kiri tangga terdapat relief. Demikian pula pada dasar candi serta bagian pintu. Umumnya, relief bercirikan candi Budha, antara lain makhluk kerdil dan Kinari-Kinari atau makhluk bersayap penghuni kahyangan. Pada sudut-sudut candi terdapat relief Simbar , yang lainnya adalah Jaladwara atau saluran air.
Badan candi ini berbentuk segi empat. Di dalamnya ada sebuah kamar, tapi belum diketahui apa yang ada di sini, karena belum dipugar. Demikian pula dengan atap candi, belum dipugar hingga kini.
22. Candi Bahal III
Candi Bahal, Biaro Bahal, atau Candi
Portibi adalah kompleks candi Buddha aliran Vajrayana yang terletak di Desa
Bahal, Kecamatan Padang Bolak, Portibi, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera
Utara, yaitu sekitar 3 jam perjalanan dari Padangsidempuan (bisa menaiki
angkutan umum taksi ongkos Rp 10.000 sampai ke simpang candi bahal, dari
simpang candi bahal menuju ke candi bahal I berkisar 800 meter, bahal I ke bahal II berjarak -+ 300 meter, bahal II ke Bahal III
berjarak -+ 300 meter, namun tidak ada angkutan umum dari simpang candi menuju
candi bahal) atau berjarak sekitar 400 km dari Kota Medan. Candi ini terbuat
dari bahan bata merah dan diduga berasal dari sekitar abad ke-11 dan dikaitkan
dengan Kerajaan Pannai, salah satu pelabuhan di pesisir Selat Malaka yang
ditaklukan dan menjadi bagian dari mandala Sriwijaya.
23.Candi Jago, Malang, Jawa Timur
Abad ke-12 M, Singhasari
Candi Jago berasal dari kata
"Jajaghu", didirikan pada masa Kerajaan Singhasari pada abad ke-13.
Berlokasi di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Candi ini cukup unik, karena
bagian atasnya hanya tersisa sebagian dan menurut cerita setempat karena
tersambar petir. Relief-relief Kunjarakarna dan Pancatantra dapat ditemui di
candi ini. Sengan keseluruhan bangunan candi ini tersusun atas bahan batu
andesit. Pada candi inilah Adityawarman kemudian menempatkan Arca Manjusri
seperti yang disebut pada Prasasti Manjusri.
24.
Candi
Pawon, Jawa Tengah Abad ke-13 M,
Majapahit

Candi
Pawon adalah nama sebuah candi. Penduduk setempat juga menyebutkan candi Pawon
dengan nama Bajranalan. Kata ini mungkin berasal dari kata bahasa Sanskerta
vajra = "halilintar" dan anala yang berarti "api". Suatu
hal yang menarik dari Candi Pawon ini adalah ragam hiasnya. Dinding-dinding
luar candi dihias dengan relief pohon hayati (kalpataru) yang diapit pundi-pundi
dan kinara-kinari (mahluk setengah manusia setengah burung/berkepala manusia
berbadan burung). Letak Candi Pawon ini berada di antara candi Mendut dan candi
Borobudur.
25. Candi Jawi, Tretes

Candi Jawi adalah candi yang dibangun sekitar abad ke-13 dan
merupakan peninggalan bersejarah Hindu - Buddha Kerajaan Singhasari di
kecamatan Prigen, Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia. Candi Jawi ini terletak di
pertengahan jalan raya antara Kecamatan Pandaan - Kecamatan Prigen dan
Pringebukan. Candi Jawi banyak dikira sebagai tempat pemujaan atau tempat
peribadatan Buddha, namun sebenarnya merupakan tempat penyimpanan abu dari raja
terakhir Singhasari, Kertanegara. Keunikan Candi Jawi adalah adanya relief di
dindingnya. Sayangnya, relief ini belum bisa dibaca. Bisa jadi karena pahatannya
yang terlalu tipis, atau karena kurangnya informasi pendukung, seperti dari
prasasti atau naskah. Negarakertagama yang secara jelas menceritakan Candi Jawi
ini tidak menyinggung sama sekali soal relief tersebut. Candi Jawi dipugar
untuk kedua kalinya tahun 1938-1941 dalam masa pemerintahan Hindia Belanda
karena kondisinya sudah runtuh. Akan tetapi, renovasinya tidak sampai tuntas
karena sebagian batunya hilang. Kemudian diperbaiki kembali tahun 1975-1980,
dan diresmikan tahun 1982. Bentuk bangunan Candi Jawi memang utuh, tetapi
isinya berkurang. Arca Durga kini disimpan di Museum Empu Tantular, Surabaya.
Lainnya disimpan di Museum Trowulan untuk pengamanan. Sedangkan yang lainnya
lagi, seperti arca Brahmana, tidak ditemukan. Mungkin saja sudah berkeping-keping.



